• +62 856-9324-2215
  • dgci.yogyakarta@gmail.com

Ban dan Velg (Kode-Kode Ban)

Ban dan Velg (Kode-Kode Ban)

Misalnya ban berkode 215/65R15 89H. Angka '215' adalah lebar telapak ban dalam satuan ukuran milimeter.
'65' (Aspek Rasio), adalah rasio/perbandingan antara ketebalan profil ban dengan lebar telapak ban. Angka
65 di sini mengisyaratkan tinggi/tebal ban adalah 65% dari lebar telapak ban.
'R' (konstruksi), adalah pola jalinan benang/kawat yang memperkuat konstruksi ban. 'R' di sini berarti ban
tersebut memiliki pola jalinan berpola radial. Jika 'B' berarti ban tersebut mempunyai konstruksi sabuk
bias(bias belted). Untuk 'D' maka berarti konstruksinya adalah bias diagonal (diagonal bias).
Angka 15 berikutnya adalah ukuran diameter rim/velek dalam satuan inci dan angka '89' mengisyaratkan
beban maksimal (load index) yang diizinkan pada ban bersangkutan. Sesuai dengan standar industri ban
maka kode tersebut memiliki kapasitas beban maksimal sebesar 580 kilogram di tiap ban.
T abel load Index/ beban maksimal yang diizinkan:
86=530kg
87=545kg
88=560kg
89=580kg
90=600kg
91=615kg
92=630kg
93=650kg
94=670kg dan seterusnya.
Huruf "H' terakhir merupakan indikator kecepatan maksimal.
T abel indikator kecepatan maksimal yang diizinkan:
G= 90km/jam
H= 210km/jam
J= 100km/jam
K= 110km/jam
L= 120km/jam
M= 130km/jam
N= 140km/jam
P= 150km/jam
Q= 160km/jam
R= 170km/jam
S= 180km/jam
T= 190km/jam
U= 200km/jam
V= 240km/jam
W= 270km/jam
Y= 300km/jam
Jadi ban berkode 215/65R15 89H adalah ban dengan lebar telapak 215mm, ketebalan ban dengan aspek
rasio 65% x 215(mm) = 129(mm), berjenis radial dengan ukuran velek berdiameter 15 inci, mampu dibebani
seberat 580 kg dengan batas kecepatan aman maksimal 210 km/jam.
Ada perbedaan kode simbol batas kecepatan pada sistem Eropa generasi lawas yang diberi kode 215/65
HR15 yang berarti lebar telapak 215 mm/aspek rasio 65, kecepatan maksimal 210 km/jam, jenis radial dan
rim 15 inci.
TR=100 Km/jam.
HR=210 Km/jam.
VR=260 km/jam
ZR=340 km/jam.
Tulisan 'DOT' pada dinding ban, berarti ban tersebut telah memenuhi standar persyaratan dari Departement
of Transportation (DOT) Amerika Serikat berdasarkan sistem Uniform Tire Quality System (UTQG) atau tiga
jenis kemampuan/tingkatan ban, yaitu keawetan/jarak tempuh, daya cengkeram dan daya tahan terhadap
temperatur .
Inflation Pressures/T ekanan angin adalah batas maksimum yang diperbolehkan, tetapi belum tentu sesuai
untuk jenis mobil Anda. Pakailah selalu tekanan angin yang dianjurkan produsen mobil yang dapat dilihat
pada buku petunjuk/manual book.
Di samping kode-kode di atas, ada kode lainnya yang tak kalah penting. Dalam dunia off-road kerap kita
mendengar ban berukuran 31 ban 33 dan lain sebagainya. Untuk ban off-road biasanya menggunakan kode
sederhana seperti 31 x 10.50 R 15 6PR.
Angka 31 adalah ukuran paling luar diameter ban dalam satuan inci, sementara 10.50 merupakan ukuran
lebar ban dalam satuan inci, R adalah jenis ban Radial dan 6PR adalah 6 Ply Rating yaitu jumlah lapisan
pola jalinan kawat atau benang di dalam ban yang dalam hal ini maksudnya 6 lapisan.
KODE-KODE PADAVELEK
Bahasa velek umumnya lebih sederhana dibanding bahasa ban. Sebagai contoh: Sebuah velek tertera kode
7 1/2 (7.5) x 17 kemudian 4/1 14.3 dan ET+40.
Angka 7.5 pada rangkaian kode 7.5 x 17 merupakan lebar velek dalam satuan inci sementara angka 17
merupakan diameter velek dalam satuan inci. Arti angka 7.5 x 17 berarti velek memiliki lebar 7,5 inci dengan
diameter 17 inci.
Rangkaian kode 4/114.3 merupakan kode untuk menunjukkan jumlah baut yaitu 4 baut dan 1 14.3
merupakan kode untuk PCD (Pitch Circle Diameter) yaitu diameter pola lingkaran posisi baut dalam satuan
milimeter. Jadi jika ada kode 5/1 12, berarti velek tersebut memiliki 5 lubang baut dengan PCD 1 12 mm.
Kode ETmerupakan ukuran offset velek. V elek memiliki dua bibir yaitu bibir luar dan bibir dalam. Jika
dudukan baut velek berada tepat di tengah-tengah antara bibir luar dan bibir dalam (centerline) berarti velek
memiliki offset 0.
Posisi dudukan baut velek semakin ke arah luar berarti velek memiliki offset positif demikian pula sebaliknya
jika posisi dudukan roda cenderung lebih ke arah dalam berarti negatif. Jadi jika pada velek tertulis ET+40
itu artinya posisi dudukan baut roda pada velek bergeser ke luar sejauh 40 mm.
Umumnya pemilik kendaraan jarang malakukan kesalahan dalam memilih ukuran ban dan velek serta
ukuran PCD. Akan tetapi pemilik kerap lalai mengukur offset-nya hingga baru diketahui setelah ban dan
velek siap dipasang atau bahkan setelah dipasang pada kendaraan.
Kebanyakan problem yang timbul adalah mentoknya ban dengan komponen bodi kendaraan seperti pada
bibir spakbor atau fender, piring dudukan pegas suspensi atau dinding apron maupun dinding rumah roda
akibat melupakan faktor offset.
Kalau sudah begini, biasanya pemilik menyiasatinya dengan menambahkan spacer agar ban tidak mentok.
Namun perlu diingat bahwa penggunaan spacer membuat velek memiliki potensi bergeser dari posisinya
karena tumpuan velek hanya bergantung pada ikatan baut-baut roda.
Seharusnya velek menempel sempurna pada dudukan roda dan tertahan oleh tonjolan poros roda agar
posisi roda tetap center pada dudukannya.
Y ang tidak kalah pentingnya saat memasang velek, perhatikan lubang tengah velek dan tonjolan pada
dudukan velek. Idealnya antara lubang tengah pada velek dan tonjolan hub roda harus masuk secara
presisi. Jika Ada celah, sebaiknya Anda meminta ring tambahan untuk di pasang pada center hub roda untuk
membantu velek tetap center terhadap poros roda.
Sumber:
http://tipsberitasehat.blogspot.com/2011/12/memahami-ukuran-ban-dan-velg-mobil-tips.html

dgciyo

Sedang tidak terkoneksi Internet